Skripta Vol. 1

Skripta Volume I/ Semester I/ 2014

BIENNALE SEBAGAI RUANG WACANA: PENCIPTAAN, PEMBACAAN DAN GAGASAN TENTANG PUBLIK

Keberadaan biennale sebagai peristiwa seni global dalam kurun waktu 10 tahun terakhir ini memang terasa dirayakan di berbagai belahan dunia. Dimulai dari dilaksanakannya Venice Biennale, hingga Sao Paulo dan Havana, biennale/triennale kini juga mengubah konstelasi kartografi seni dimana kota-kota kecil di daerah pinggiran bisa menjadi wilayah fokus dalam perkembangan seni rupa kontemporer. Meningkatnya jumlah penyelenggaraan biennale di berbagai belahan dunia tidak saja memberikan indikasi pada keinginan komunitas seni untuk menjadi bagian dari fenomena global yang berpijak pada konteks-konteks lokal, tetapi juga menunjukkan bahwa peristiwa seperti biennale telah menjadi bagian dari praktik bernegosiasi di antara pelaku-pelaku siasat kota, menjadikan kebudayaan sebagai ruang untuk bermediasi tentang politik identitas (di) kota. Dalam perhelatan seperti biennale, yang sebagian besar melibatkan dana-dana publik yang dikelola pemerintah daerah, terjadi berbagai eksperimentasi penciptaan, perdebatan atas berbagai definisi dan diskursus, serta tarik menarik kepentingan. Penggunaan dana publik membuat acara seperti biennale menjadi tumpuan harapan bagi banyak pihak dan membuat para pemangku kepentingan seni merasakan ikut memiliki acara tersebut, terutama pada kota-kota yang infrastruktur seninya terbatas.

Menyebut keberadaan biennale di Indonesia, ada dua biennale yang punya sejarah cukup panjang, yaitu Jogja Biennale dan Jakarta Biennale. Yang menarik, di awal perkembangannya, ada pembagian fokus yang cukup tegas di antara keduanya, di mana Jogja Biennale dimaksudkan menjadi peristiwa yang mampu mempresentasikan perkembangan seni rupa di Jogja dalam dua tahun terakhir, sementara Jakarta Biennale diarahkan untuk menjadi barometer seni rupa tingkat nasional. Namun pada perkembangannya, seiring dengan perubahan dan pergeseran dinamika seni di Indonesia, masing-masing pun merespons situasi-situasi lokal dengan visi yang berbeda dan dianggap relevan dengan konteksnya masing-masing.

Yang menarik, enam tahun terakhir penyelenggaraannya, Jogja Biennale dan Jakarta Biennale sama-sama menyajikan visi baru menjadi bagian dari perhelatan biennale internasional, dengan mengundang seniman-seniman dari Negara lain, bersanding dengan seniman lokal. Visi baru Jakarta Biennale yang cukup jelas terwujud dalam Jakarta Biennale X tahun 2009, bertajuk Arena, di bawah arahan direktur Ade Darmawan dan Agung Hujatnika Jennong. Kemudian, dimulai dengan berdirinya Yayasan Biennale Yogyakarta, terbuka visi baru bagi ajang dua tahunan ini sebagai biennale internasional berkonsep khatulistiwa.

Perubahan-perubahan ini pada akhirnya melahirkan perdebatan di kalangan pelaku sendiri tentang apa itu biennale dan relasi-relasi kuasa di sekitarnya yang sedemikian kompleks. Menjadi internasional ternyata tidak semudah mengundang seniman-seniman internasional untuk datang dan memamerkan karyanya, lalu peristiwa itu tercatat dalam sejarah biennale di dunia. Yang menarik, saya kira, lebih daripada itu, perubahan ini sendiri mendorong lahirnya pertanyaan-pertanyaan reflektif yang penting untuk menjadi bahan diskusi bersama. Beberapa pertanyaan bisa diidentifikasi dengan segera: untuk apa biennale diadakan dalam situasi lingkup seni di Indonesia yang sangat dipengaruhi oleh pasar seni? Apa relevansi biennale dengan peristiwa dan gerakan budaya yang lain di luar dirinya? Bagaimana biennale memberikan kontribusi dalam kehidupan sebuah kota, mendayagunakan kembali seni dan budaya sebagai penguatan masyarakat sipil, terutama mengingat bahwa sebagian besar biennale menggunakan dana publik?

Beberapa pertanyaan bisa diidentifikasi dengan segera: untuk apa biennale diadakan dalam situasi lingkup seni di Indonesia yang sangat dipengaruhi oleh pasar seni? Apa relevansi biennale dengan peristiwa dan gerakan budaya yang lain di luar dirinya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting tidak saja untuk mengukur relevansi biennale dalam dinamika pembentukan masyarakat perkotaan, akan tetapi juga bagaimana gerakan budaya membangun interaksi dengan para pemangku kepentingan di dalamnya, melalui berbagai konflik kekuasaan dan pertarungan wacana, dalam tahapan yang tampak terlalu praktis di permukaannya sekalipun.

Kontributor: Alia Swastika, Arham Rahman, Stanislaus Yangni, Zakiat Darajat, Irham Nur Anshari, Muhammad Abe, Timoteus Anggawan Kusno

Versi PDF jurnal ini dapat diunduh di sini.

Tinggalkan komentar