Landasan Pemikiran: Memanggungkan Seni Rupa Indonesia dan Gagasan atas Identitas Nasional

MEMANGGUNGKAN (SENI RUPA) INDONESIA DALAM LINGKUP INTERNASIONAL

Studi tentang Pameran-pameran Seniman Indonesia di Luar Negeri dan Pembentukan Identitas Nasional

Penelitian ini akan berfokus pada upaya mengumpulkan dan memetakan, membuat kategori dan menganalisis pameran-pameran yang bertujuan untuk mempromosikan dan memperkenalkan seni rupa kontemporer Indonesia di panggung internasional. Menggunakan teori identitas dan pasca colonial yang kritis, penelitian ini mencoba mempertanyakan apakah makna dari identitas nasional yang dipresentasikan oleh berbagai pameran internasional yang “berfokus” Indonesia. Upaya memetakan dan membuat kategori akan menjadi penting untuk menunjukkan pemain dominan dalam upaya mempromosikan seni Indonesia dan bagaimana mereka telah memberikan kontribusi pada wacana tentang identitas nasional hari-hari ini.

Dalam lima tahun terakhir, perkembangan medan seni kontemporer di Indonesia berkembang sangat pesat dan telah menarik banyak minat dari dunia seni global, di mana seni Indonesia sering disebut sebagai salah satu medan seni yang paling bertumbuh. Hal ini telah mengubah banyak hal berkaitan dengan relasi-relasi di antara pemain-pemain dalam praksis berkesenian di Indonesia, misalnya di antara para seniman, kurator, manajer, kolektor, dan dengan mereka yang bermain dalam lingkup seni global.

Ada peningkatan jumlah yang signifikan dari pameran-pameran yang melibatkan seniman-seniman dan kurator-kurator di galeri-galeri internasional di Berlin, New York, Paris, Hong Kong, Sydney, Melbourne, London, dan sebagainya. Yang menarik, sebagian besar inisiatif ini sesungguhnya diorganisir organisasi individual atau galeri komersial, sebagian dengan keterlibatan pemerintah, yang banyak memamerkan koleksi nasional untuk dipamerkan di Negara lain. Penting untuk membandingkan fenomena ini dengan apa yang terjadi di masa lalu, terutama untuk melihat kebijakan kebudayaan pada dekade lalu, seperti tahun 1960an, 1970an, 1980an, dan 1990an. Belum ada penelitian yang secara khusus mempelajari fenomena ini, yang sesungguhnya penting untuk melacak perkembangan-perkembangan baru dan sekaligus melihat pergeseran dan transformasi dari aktivitas pertukaran budaya dan presentasi seni dalam rangka merumuskan lebih jauh kebijakan budaya di Indonesia dari masa ke masa. Di masa lalu, pada masa pemerintahan Soekarno, presiden pertama Indonesia, peran seni dan budaya menjadi sangat penting sebagai upaya memosisikan Indonesia sebagai Negara baru. Ia mengirim banyak seniman untuk mempelajari teknik-teknik baru dan memperluas pengetahuan agar bisa membangun praktik seni di Indonesia. Ada banyak acara kebudayaan diselenggarakan oleh pemerintah Indonesia di luar negeri untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada khalayak internasional. Hampir semua figure penting dalam perjalanan sejarah seni Indonesia, mulai dari pelukis, penari, sutradara teater, penulis dan sebagainya, telah mendapatkan keuntungan langsung dari strategi diplomasi kebudayaan era Soekarno ketika mereka dikirim ke New York, Paris, India, dan kota-kota lain. Pada saat yang sama, Soekarno juga menunjukkan betapa penting untuk menjadi pemain utama dalam wilayah kebudayaan dengan menciptakan jejaring kerja yang signifikan dengan pekerja seni di seluruh dunia.

Tumbuhnya inisiatif-inisiati baru ini akan menarik untuk ditelusuri sehingga kita bisa membandingkan keterlibatan pemerintan dan lembaga privat, terutama untuk mencari tahu bagaimana keterlibatan ini berpengaruh pada perbedaan tujuan, target, dan pendekatan yang digunakan untuk mendefinisikan konsep diplomasi kebudayaan. Apakah gagasan tentang pertukaran budaya bagi pemerintah, dan apa maknanya bagi komunitas seni itu sendiri? Apakah ada pola ideologis yang menjadi titik berangkat bagi setiap pihak yang terlibat, yang membawa mereka pada aspek praktis penyelenggaraan pameran? Pergeseran rezim kekuasaan, dari Soekarno ke Soeharto juga membawa dampak pada kebijakan budaya, di mana Soeharto berfokus pada stabilitas nasional, di mana ia menempatkan kebudayaan lebih sebagai senjata diplomatis pada masyarakat Indonesia, untuk menghambat gerak satu kelompok, atau untuk membangun dominasi satu kelompok etnis kepada yang lain.

Penjelasan ini merujuk pada pertanyaan tentang identitas nasional. Apakah konsep identitas nasional bagi Negara muda tetapi heterogen, seperti Indonesia? Dengan kekayaan etnisitas budaya, yang telah menjadi dasar kehidupan dalam keseharian masyarakat, bagaimana kita membangun apa yang disebut sebagai “kebudayaan Indonesia”? Dan bagaimana gagasan tentang kebudayaan Indonesia ini dipresentasikan oleh pemerintah pada level internasional, mementaskan ritual-ritual dan hasil produksi tradisional, seolah kebudayaan merupakan produk final dalam masyarakat? Apakah Negara pada saat yang sama dapat memfasilitasi memperkenalkan hasil karya seni kontemporer terutama yang mempunyai gagasan kritis?

Apakah konsep identitas nasional bagi Negara muda tetapi heterogen, seperti Indonesia? Dengan kekayaan etnisitas budaya, yang telah menjadi dasar kehidupan dalam keseharian masyarakat, bagaimana kita membangun apa yang disebut sebagai “kebudayaan Indonesia”?

Lebih jauh lagi, dari penelitian ini, khususnya menilik pada gagasan tentang pertukaran budaya melalui semua projek atau penelitian yang dilakukan oleh pemerintah, yang juga menjadi salah satu subjek penelitian ini, kita bisa melihat bagaimana relasi antara Negara dan Kebudayaan. Bagaimana kegiatan kebudayaan berubah menjadi senjata lunak untuk menghadapi pertarungan ideologis antar bangsa. Dari inisiatif privat, kita melihat lebih jauh dari konteks luar yang mempengaruhi tumbuhnya pertukaran internasional, apakah datang dari tingginya tuntutan atas pasar seni global yang ingin menampilkan area yang disebut sebagai pasar-pasar seni rupa terbaru, misalnya Indonesia, India, Brazil, Cina dan sebagainya. Apakah peran market dalam wilayah pertukaran budaya dan bagaimana aktivitas pasar ini memberi kontribusi dalam pembentukan sistem seni internasional mutakhir?

Tinggalkan komentar