Petikan wawancara dengan Jim Supangkat. Wawancara diselenggarakan di ruang kerja Jim Supangkat pada 14 Desember 2014.
Tentang awal internasionalisme seni rupa Indonesia:
“Pada tahun ’89 saya dengan 3 seniman lain diundang dalam sebuah karya proyek, Artist Regional Exchange. Nah di situlah sebetulnya saya mulai, mulai, sadar tentang dunia. Sebetulnya Jepang dan Australia ketika itu juga masih meraba yah, yang saya sebutkan program bahwa mereka mau membangkitkan Asia itu belum eksplisit. Jadi itu karena mungkin masih diimbas politik. ARX itu salah satu percobaan pertama. Di situ saya bersentuhan sama lingkungan yang lebih besar; lingkungan Asia; dan mulai menyerap secara intuitif tentang perubahan dunia itu. Pada ARX itu yang saya mulai berpikir kalau saya teruskan sendiri, yah dengan grup gitu, mungkin cuma beberapa orang yang masuk ke forum internasional. Saat itu kan masih belum ada bayangan di forum internasional. Sesudah Arx ’89 itu, saya memutuskan menjadi kurator. Jadi di situ saya mulai menangkap, juga secara bodoh barangkali, bahwa bagaimana internasional itu artinya mulai berfikir bagaimana membuka jaringan internasional dan sebagainya, dan sebagainya. Dan di situ, saya menemukan secara intuitif juga pentingnya peran kurator.
“Pada ARX itu yang saya mulai berpikir kalau saya teruskan sendiri (sebagai seniman), yah dengan grup gitu, mungkin cuma beberapa orang yang masuk ke forum internasional… Sesudah ARX ’89 itu, saya memutuskan menjadi kurator.”
“Pokoknya di masa itu saya menyimpulkan tanpa kurator kita nggak bisa keluarlah. Mula – mula, juga nggak tahu nih kurator tuh apa dan sebagainya. Itu pengalaman saya sendiri. Dalam artian menemukan, saya harus menemukan sendiri pemahaman tentang apa kurator. Dan dari situ sebetulnya mulai, di tahun ’92, saya terlibat dalam pamerannya New Art From South East Asia di… Jepang. Dan kemudian yang besar adalah di awal ’90 itu langsung terlibat persiapan Trienalle Asia Pacific di Brisbane. Itu dua, dua proyek awal. Nah, berita jeleknya adalah persis ketika menyiapkan Brisbane e.. apa… Trienalle Brisbane itu Sanento meninggal. Dan rasanya cukup berat bagi saya ketika itu kehilangan teman kerja, sehingga seperti harus berjalan sendirian.”
Tentang Pavilliun Indonesia di Venice Biennale
“Melihat Pavilliun Indonesia sangat bergantung dari bagaimana kita mampu menarik perhatian ya. Dan saya pikir menarik perhatian itu terutama dari pikiran (konsep dan gagasan). Kalau kita tidak mempunyai konsep yang jitu untuk menghadapi mereka, pengalaman saya nih, mereka tidak akan peduli. Mau itu pavilliunnya dikasih emas kek, dikasih apa segala macam nggak peduli mereka. Dalam tradisi art di sana itu konsep itu merupakan pertemuan pikiran. Bukan pertemuan kesempatan atau pertemuan apa segala macam gitu. Nah pemunculan eksotisme sesuatu daerah yang membuat pengunjung di sana merasa bosan dan tidak tertarik lagi.”

