Ade Darmawan: Ruangrupa Sudah Menjadi Bagian dari Masyarakat Dunia

Petikan wawancara dengan Ade Darmawan. Wawancara dilakukan pada Desember 2014.

foto_wawancara ade 1

“Pada ‘80an ‘90an, seni rupa kontemporer sudah bergerak dan itu aku pikir fenomena perubahan ini nggak cuma Indonesia aja bahkan nggak cuma Asia tapi juga mencakup wilayah yang di luar Eropa, Amerika ini gitu. Kalau sebelumnya, Eropa Amerika menjadi poros karena memang uangnya ada di sana jadi inisiatif – inisiatif nya disana. Tapi kalau dilihat sebenarnya kan, pergerakan–pergerakan atau praktik–praktik seni rupa kontemporer itu terjadi dimana – mana, nggak cuma di Indonesia atau di Asia, tapi juga di Amerika Latin, Afrika, Asia Selatan dan segala macam. Bahkan Timur Tengah gitu.

“Dan awal 2000an itu sebenarnya itu ada tulisan yang menarik, waktu Ruangrupa juga menjadi bagian dari network Rain yang menunjukkan juga jejaring selatan–selatan. Itu kita mulai tahun 2000. Itu ada tulisan yang menarik, judulnya Silence Zone. Di sana disebutkan bahwa ada, ada fenomena, zona–zona yang tadi, yang tadinya dianggap silent gitu, tetapi sebenarnya tidak silent, justru di sanalah terjadi penemuan-penemuan, inovasi–inovasi praktek dan juga inovasi–inovasi kelembagaan dalam seni rupa kontemporer, dan itu di banyak tempat.

“…zona– zona yang tadi, yang tadinya dianggap silent gitu, tetapi sebenarnya tidak silent, justru di sanalah terjadi penemuan-penemuan, inovasi–inovasi praktek dan juga inovasi–inovasi kelembagaan dalam seni rupa kontemporer…”

“Satu misalnya contohnya waktu itu Gwangju 2002, yang dikuratori sama Hou Hanru sama Charles Esche, itu juga menarik sebenarnya, melihat bahwa mungkin untuk pertama kalinya misalnya, yang ditampilkan adalah artist initiative, artist kolektif, segala macam, juga untuk menggeser paradigma atau menantang pandangan umum bahwa seniman itu adalah individual. Pameran ini juga meruntuhkan gagasan tentang center dan segala macam, lalu yang ditampilkan justru kelembagaan, kolektif, dan segala macam. Dan itu banyak sekali di luar wilayah Eropa Amerika yang ditampilkan di situ. Itu sebenarnya menarik untuk dijadikan satu momentum penting wacana itu.

“Kalau Ruangrupa sendiri, berhadapan dengan wacana politik identitas, tidak mau bahkan membawa nama Indonesia, karena sudah menjadi bagian dari masyarakat dunia misalnya. Tetapi mau tidak mau kan dalam katalog kita ditulis tinggal dan bekerja di Indonesia.”

Tinggalkan komentar