Eko Nugroho: Karya Lebih Penting dari Sosok Seniman

Petikan wawancara dengan Eko Nugroho. Wawancara dilakukan pada 12 Januari 2015.

wawancara eko

“Bagi saya, menjadi internasional yang penting sebenarnya lebih ke karya senimannya, bukan cuma sosoknya. Jadi ketika karya senimannya itu lebih diakui secara lebih internasional, dan bukan secara kolektif sebagai Indonesia, itu tantangannya berbeda. Saya lebih cenderung untuk mengatakan bahwa kekuatan karya seninya itu harusnya lebih kuat untuk diakui di kancah internasional.

“Saya terlibat proyek seni di luar negeri pertama kali dengan Cemeti pertama kali tahun 2002. Jadi waktu itu ada projek antara Cemeti dengan Jepang dan mereka mengirimkan seniman untuk melakukan residensi dalam jangka waktu yang pendek, 2 minggu, untuk melakukan projek di Fukuoka Asian Art Museum. Menurut saya di level itu pengalaman di ranah internasional itu masih belum bisa dikatakan saya menjadi bagian dari seniman internasional. Menurut saya, pengalaman dan aktivitas harus dibenturkan terus menerus dan secara jelasnya kita harus sadar tentang makna internasional itu sendiri dalam arti bagaimana sebenarnya pertarungannya.

“Setelah beberapa waktu, dan dengan adanya kesadaran ini,  menurut saya baru terasa tanggung jawab saya berkarya seni secara internasional meskipun topik dan isi yang saya angkat isi yang ada di sekitar lingkungan saya sendiri di sini. Bisa dikatakan lokal tetapi lokal konten di indonesia ini masih relavan apa yang terjadi di luar juga karena situasi hampir sama politik, sosial, agama misalnya budaya itu hampir sama di berbagai tempat, hanya porsi dan karekternya berbeda karena masing-masing negara punya karekterisik yang berbeda. Untuk menjadi bagian dari seni dunia, seniman harus bisa memahami dirinya dan sekitarnya atau katakanlah negaranya . Karena saya sebagai pengunjung juga sering ingin tahu seniman dari konteks kultural yang berbeda. Misal saya pengen tahu karya seniman Cina katakanlah bisa memberi wacana yang luas tentang negaranya. Demikian pula dengan seniman dari Amerika misalnya. Jadi ada fenomena-fenomena yang dibaca lewat karyanya. Itu menurut saya penting gitu dan memang tidak serta merta menjadi mengglobal tetapi ada proses dialog dan negosiasi yang panjang.

“Untuk menjadi bagian dari seni dunia, seniman harus bisa memahami dirinya dan sekitarnya atau katakanlah negaranya. Karena saya sebagai pengunjung juga sering ingin tahu seniman dari konteks kultural yang berbeda.”

“Tentang bagaimana ada preferensi terhadap seni-seni yang eksotis, saya lebih bisa faham dan lebih maklum untuk kurator atau penyelenggara dari internasional ketika mereka menawarkan sebuah tema eksotisme. Nah saya yang enggak faham dan saya sangat miris  justru jika penyelenggara dan kurator dari kita sendiri misalnya. Apakah hanya sebatas itu pola kurasinya atau pola fikirnya. Sayang sebenernya kenapa harus takut dengan audiens internasional yang lebih luas;  mereka bisa menerima Indonesia dengan terkini apa adanya, apa wacana dan isu yang sedang terjadi. Jadi masyarakat internasional itu sendiri sudah terbuka. Dengan memberikan tema eksotis, sesuatu yang sangat tradisi misalnya, saya enggak tahu itu sebenarnya kesepekatan kurator kita sendiri atau penyelenggara yang menjadikan patokan bahwa indonesia itu yang menarik itu selalu tradisi dan ekstotisme. Kalau yang tradisi dan eksotis, sudah tahu banyak dari internet. Yang mereka tunggu adalah kecerdasan kita sendiri untuk keluar dari perangkap itu dan menunjukkan kekuatan kita yang unik dan karenanya dari situ justru menunjukkan satu sisi kehidupan lain yang terbuka untuk didiskusikan.

“Sebenernya ada banyak proyek dengan pendekatan kuratorial yang cukup ideal. Tetapi, untuk menyebut beberapa, salah satu projek APT (Asia Pacific Trienalle) 2005 di Brisbane. Mereka organisasinya sangat profesional: mereka sudah menyiapkan satu tahun sebelumnya. Jadi dalam jangka waktu satu tahun sudah mengundang seniman dan mereka sedang membicarakan projek yang akan dibangun di sana dan ketika waktunya datang mereka sudah menyiapkan segala sesuatunya. Menariknya lagi, mereka tidak menjadikan pesta trienalle itu manjadi milik orang-orang tertentu atau kaum-kaum seni, museum dan galeri tetapi pablik yang sangat luas dan itu bisa menjadi aset masyarakatnya sendiri dan ini sangat menarik karena begitu cairnya projek ini bahkan seniman itu bisa menjadi bagian sebuah masyarakat di Brisbane khususnya.  Yang kedua adalah residensi bersama SAM Project di Paris, meskipun organisasinya lebih kecil tetapi mereka berusaha lebih profesional dan mereka bisa bekerja sama dengan institusi atau penting pemerintahan di Paris sendiri untuk membuka ruang selebar-lebarnya baik itu museum atau area projek yang sangat penting. Jadi karya-karya seniman bisa ditempatkan di area-area yang sangat penting dan itu memberikan feedback yang sangat-sangat luas bagi seniman sendiri dan dari kacamata seni atau wacana seni di paris juga sangat berbeda yang terjadi di New York dan di Eropa lainnya.”

Tinggalkan komentar