Skripta Vol. 2

Skripta Vol. 1/ Semester 1/ 2015

SENI RUPA KONTEMPORER INDONESIA DAN ILUSI INTERNASIONAL(ISASI)

Skripta edisi ini akan berfokus pada upaya mengumpulkan dan memetakan serta menganalisis pameran-pameran yang bertujuan untuk memperkenalkan dan menampilkan seni rupa kontemporer Indonesia di panggung internasional. Menggunakan teori identitas dan pasca kolonial yang kritis, penelitian kecil ini mencoba mempertanyakan apakah makna dari identitas nasional yang dipresentasikan oleh berbagai pameran internasional yang “berfokus” Indonesia. Upaya memetakan dan membuat kategori akan menjadi penting untuk menunjukkan pemain dominan dalam upaya mempromosikan seni Indonesia dan bagaimana mereka telah memberikan kontribusi pada wacana tentang identitas nasional hari-hari ini.

Dalam lima tahun terakhir, perkembangan medan seni kontemporer di Indonesia berkembang sangat pesat dan telah menarik banyak minat dari dunia seni global, di mana seni Indonesia sering disebut sebagai salah satu medan seni yang paling bertumbuh. Hal ini telah mengubah banyak hal berkaitan dengan relasi-relasi di antara pemain-pemain dalam praksis berkesenian di Indonesia, misalnya di antara para seniman, kurator, manajer, kolektor, dan dengan mereka yang bermain dalam lingkup seni global.

Ada peningkatan jumlah yang signifikan dari pameran-pameran yang melibatkan seniman-seniman dan kurator-kurator di galeri-galeri internasional di Berlin, New York, Paris, Hong Kong, Sydney, Melbourne, London, dan sebagainya. Yang menarik, sebagian besar inisiatif ini sesungguhnya diorganisir organisasi individual atau galeri komersial, sebagian dengan keterlibatan pemerintah, yang banyak memamerkan koleksi nasional untuk dipamerkan di Negara lain. Penting untuk membandingkan fenomena ini dengan apa yang terjadi di masa lalu, terutama untuk melihat kebijakan kebudayaan pada dekade lalu, seperti tahun 1960an, 1970an, 1980an, dan 1990an. Belum ada penelitian yang secara khusus mempelajari fenomena ini, yang sesungguhnya penting untuk melacak perkembangan-perkembangan baru dan sekaligus melihat pergeseran dan transformasi dari aktivitas pertukaran budaya dan presentasi seni dalam rangka merumuskan lebih jauh kebijakan budaya di Indonesia dari masa ke masa. Di masa lalu, pada masa pemerintahan Soekarno, presiden pertama Indonesia, peran seni dan budaya menjadi sangat penting sebagai upaya memosisikan Indonesia sebagai Negara baru. Ia mengirim banyak seniman untuk mempelajari teknik-teknik baru dan memperluas pengetahuan agar bisa membangun praktik seni di Indonesia. Ada banyak acara kebudayaan diselenggarakan oleh pemerintah Indonesia di luar negeri untuk memperkenalkan budaya Indonesia kepada khalayak internasional. Hampir semua figure penting dalam perjalanan sejarah seni Indonesia, mulai dari pelukis, penari, sutradara teater, penulis dan sebagainya, telah mendapatkan keuntungan langsung dari strategi diplomasi kebudayaan era Soekarno ketika mereka dikirim ke New York, Paris, India, dan kota-kota lain. Pada saat yang sama, Soekarno juga menunjukkan betapa penting untuk menjadi pemain utama dalam wilayah kebudayaan dengan menciptakan jejaring kerja yang signifikan dengan pekerja seni di seluruh dunia.

Tumbuhnya inisiatif-inisiati baru ini akan menarik untuk ditelusuri sehingga kita bisa membandingkan keterlibatan pemerintan dan lembaga privat, terutama untuk mencari tahu bagaimana keterlibatan ini berpengaruh pada perbedaan tujuan, target, dan pendekatan yang digunakan untuk mendefinisikan konsep diplomasi kebudayaan. Apakah gagasan tentang pertukaran budaya bagi pemerintah, dan apa maknanya bagi komunitas seni itu sendiri? Apakah ada pola ideologis yang menjadi titik berangkat bagi setiap pihak yang terlibat, yang membawa mereka pada aspek praktis penyelenggaraan pameran? Pergeseran rezim kekuasaan, dari Soekarno ke Soeharto juga membawa dampak pada kebijakan budaya, di mana Soeharto berfokus pada stabilitas nasional, di mana ia menempatkan kebudayaan lebih sebagai senjata diplomatis pada masyarakat Indonesia, untuk menghambat gerak satu kelompok, atau untuk membangun dominasi satu kelompok etnis kepada yang lain.

Penjelasan ini merujuk pada pertanyaan tentang identitas nasional. Apakah konsep identitas nasional bagi Negara muda tetapi heterogen, seperti Indonesia? Dengan kekayaan etnisitas budaya, yang telah menjadi dasar kehidupan dalam keseharian masyarakat, bagaimana kita membangun apa yang disebut sebagai “kebudayaan Indonesia”? Dengan memahami bahwa identitas adalah sesuatu yang niscaya berubah sesuai dengan dinamika masyarakatnya, apakah dinamika ini juga terepresentasi dalam pameran-pameran tersebut

Tulisan Alia Swastika mencoba menelusuri bagaimana agen-agen yang berbeda turut berperan dalam usaha-usaha menempatkan Indonesia sebagai pelaku aktif dalam seni internasional, mulai dari masa Orde Lama hingga pasca reformasi. Ia mencoba mencari konteks-konteks yang berbeda atas kebijakan masing-masing rezim, terutama dalam kaitannya dengan situasi politik internasional. Penjabarannya memberikan gambaran tentang bagaimana peran masing-masing agensi dan pandangan tentang identitas itu diwujudkan melalui kerangka kuratorial pameran. Dalam tulisan ini, bisa dilihat adanya perubahan orientasi yang cukup tajam dari pemerintahan Orde Lama ke Orde Baru terutama dalam hal politik luar negeri dan bagaimana kebudayaan berperan di dalamnya.

Arham Rahman melanjutkan pembacaan Alia Swastika dengan menukik lebih tajam pada proses kontestasi para agen, yang lebih jauh lagi mencerminkan bagaimana seni berpatron pada sebuah sistem dunia yang timpang, yang dalam pandangannya menunjukkan perpanjangan tangan ideologi neo-liberal. Arham mengambil contoh beberapa pameran yang menandai masuknya gagasan “liyan” dalam seni rupa kontemporer, dan dengan kritis menunjukkan bagaimana semangat-semangat yang tampaknya akomodatif ini diam-diam merupakan cara bagi kelompok dominan untuk membentuk pasar baru dan menancapkan cara berkuasa yang berbeda. Kasus-kasus pameran Indonesia yang ia ambil juga merefleksikan bagaimana bingkai pemikiran Eropa-Amerika (atau yang acap disebut secara serampangan sebagai Barat) selalu punya kecenderungan menjadi paradoks dalam kaitannya dengan keinginan mereka berkait dengan sang liyan.

Irham Nur Anshari membaca bagaimana seni dari kategori geo-politik liyan selalu diberi bingkai yang penuh stereotip, antara diharapkan mengusung moda-moda estetika yang berangkat dari tradisi atau justru menunjukkan gagasan perlawanan yang verbal. Ia mengupas beberapa karya seniman yang sering ditampilkan dalam pameran Indonesia luar negeri, dan bagaimana karya-karya yang berangkat dari konteks sosial politik sering lebih tampil di ajang seperti biennale dan triennale, ketimbang melulu karya yang berbicara tentang wacana dalam seni itu sendiri. Apakah menjadi internasional, dalam kasus-kasus seniman Asia, Afrika atau wilayah lain, selalu berarti menampilkan karya dengan gagasan-gagasan politik yang tampak (visible)?

Selain menampilkan ketiga tulisan yang berangkat sebagai hasil observasi dari penelitian kecil tentang “Memanggungkan Indonesia di Ranah Internasional: Studi tentang Pameran-pameran Seniman Indonesia di Luar Negeri dan Upaya Pembentukan Identitas Nasional”, edisi Skripta ini juga kami lengkapi dengan ulasan dua penulis pendatang baru: Venti Wijayanti dan Nur Kholis. Venti Wijayanti mengupas projek terbaru seniman Wimo Ambala Bayang, “Perisai yang Usai Sudah”, sementara Nur Kholis menulis tentang pameran Timoteus Anggawan Kusno, “Memoar Tanah Runcuk”. Bagian ulasan pameran merupakan upaya membuka ruang baru bagi penulis muda untuk menulis tentang pameran-pameran seni yang mengusung gagasan-gagasan penting dan relevan dengan konteks politik Indonesia hari-hari ini, dengan bahasa dan cara pandang yang khas kaum muda. Pameran-pameran seperti ini acapkali merupakan presentasi kecil yang tidak disentuh oleh media, tetapi kami rasa penting untuk diarsipkan dan dibaca ulang, serta disampaikan sebagai sebuah tawaran diskursus pada publik yang lebih luas.

Versi PDF jurnal ini dapat diunduh di sini.

Tinggalkan komentar