Agung Kurniawan: Memandang Globalisasi sebagai Musuh

Petikan wawancara dengan Agung Kurniawan. Wawancara dilakukan pada awal 2015.

IMG_0361

Tentang arti Go Internasional:

“Saya kira istilah go international itu muncul marak kalau saya gak salah tahun 90-an. Kalau sekarang  kita ngomong go international sebenarnya sudah agak nggak mapan karena saya kira kalau lihat dari perkembangan internet dan media sosial sekarang, saya banyak melihat justru banyak teman–teman terutama pemuda itu sudah go international bahkan ketika mereka tidak perlu keluar dari rumahnya. Mereka berhubungan dengan kliennya semua menggunakan instagram, facebook, apapun itu dan secara nggak langsung mereka sampai pada skala go international sama seperti yang dilakukan oleh seniman–seniman tahun 90-an.”

Tentang gagasan besar atas internasionalisasi sebagai perluasan pasar:

“Dulu membagi gagasan untuk ide itu harus dilakukan dengan pejalanan fisik kan, kita naik pesawat, kita ngurus visa, sekarang dengan sangat berkembangnya internet dengan semua perangkat dan ideologinya, kita bahkan seperti yang saya bilang tadi tidak perlu beranjak dari kursi, kita bisa kemana–mana gitu dan itu memungkinkan. Jadi go international tanpa harus keluar dari studio gitu sesungguhnya itu bisa sekarang dan saya kira trennya besok akan seperti itu, karena perjalanan itu mahal, perjalanan itu bahaya, perjalanan itu merepotkan. Orang bisa berfikir bahwa internationalisasi itu dalam seni rupa bisa lewat media–media yang lebih alternatif saya kira.

“Internet menyediakan wahana untuk itu, meskipun bagi saya yang pernah mengalami perjalanan itu, memang jarak itu penting. Kalau saya secara konseptual, kalau kita pergi, kita punya jarak, ketika kembali kita menjadi orang yang berbeda. Nah pengalaman itu yang mungkin tidak bisa diperoleh lewat internet ya karena itu membutuhkan semacam hijrah kalau orang bilang. Perjalanan bersifat fisik sekaligus juga ideologis. Itu mungkin yang tidak bisa dilakukan internet.”

Kalau saya secara konseptual, kalau kita pergi, kita punya jarak, ketika kembali kita menjadi orang yang berbeda. Nah pengalaman itu yang mungkin tidak bisa diperoleh lewat internet ya karena itu membutuhkan semacam hijrah kalau orang bilang. Perjalanan bersifat fisik sekaligus juga ideologis. Itu mungkin yang tidak bisa dilakukan internet.

Tentang relasi seni rupa Indonesia sebagai bagian dari seni rupa global dan gagasan neoliberalisme:

“Ini ada yang menarik ketika saya diundang ke Gwanju Biennale tahun 2003, saya ikut, saya tinggal disana, 2002. Saya ada workshop kuratorial dan artis gitu, kemudian pada waktu itu isu yang paling berkembang itu globalisasi. Dan itu terbagi, seniman–seniman di Eropa memandang globalisasi sebagai berkah, seniman–seniman di Asia terutama didukung oleh seniman di Indonesia itu memandang globalisasi adalah musuh. Karena dalam globalisasi itu ada kemungkinan untuk melakukan praktik – praktik neoliberal. Jadi dalam praktiknya sesungguhnya yang kami wakili pada waktu itu berbeda. Globalisasi, humanisme, semua ide baru itu dipandang dengan cara berbeda oleh seniman – seniman dari negara–negara Asia karena bukan hanya pesoalan gagasan tetapi praktiknya. Globalisasi itu dipraktikan di Indonesia itu pada waktu itu sebagai pencaplokan, apa namanya, kepentingan lokal dan kepentingan asing via perusahaan–perusahaan besar.”

 

Tinggalkan komentar