Mella Jaarsma: Kita Bisa Membuat Acara Internasional di Sini

Petikan wawancara dengan Mella Jaarsma. Wawancara dilakukan pada awal 2015.

Mella Jarsma.mp4_snapshot_03.23_[2016.04.26_16.32.52]

Bagaimana AWAS diinisiasi dan mengapa berpikir untuk menyelenggarakannya?

Inisiatifnya dari Damon Moon. Dia residensi di ISI dan banyak diskusi-berkarya dengan Dwi Marianto. Karena banyak observasi ke seniman-seniman di Yogya pada waktu itu dan mereka merespon perubahan zaman,  Damon Moon merasa itu sangat menarik. Akhirnya, dia mendekati saya dengan Dwi Marianto. Yayasan Cemeti ditawarkan membantu menyelenggarakan pameran. Akhirnya, sebagai yang punya ide, dia mulai berkeliling Australia. Cemeti Art Foundation memasukkan proposal kepada kedutaan besar Australia untuk meminta seed funding. Akhirnya diterima. Kita lalu mulai me-manage pameran. Awalnya, kita bertiga mengkurasi pameran. Ada Dwi Marianto, Damon Moon, dan saya. Pada waktu itu, Alexandra Kuss sedang bikin penelitian juga di sini. Jadi, kita juga mulai bergabung dengan Alex. Akhirnya, kita jadi berempat yang mengkurasi dan menentukan pameran ini akan diselenggarakan di mana. Damon Moon mencari jejaring di Australia, saya yang bantu hubungan dengan Jepang dan Belanda, Alexandra khusus di Jepang.

Kalau konsep kuratorialnya pada saat itu bagaimana? Kuratorial teks AWAS tampak ingin fokus menampilkan bagaimana Indonesia setelah satu tahun reformasi.

Iya, karena kami memang melihat ada perubahan. Misalnya, sebelum reformasi, hanya ada beberapa seniman yang mau bekerja dengan tema politik, atau yang mau bekerja dengan kritis. Tapi, saat reformasi, tiba-tiba karya dengan tema politik jadi semacam tren. Seniman-seniman yang dulu apolitis, jadi politis. Waktu itu diskusi yang muncul kemudian sekitar peran seniman dalam masyarakat.

Terkait tema yang politis, ketika membawa proposal ke organisasi venue, ada tidak intervensi dari mereka?

Sebenarnya ada. Kadang-kadang juga berhubungan dengan kita punya dana berapa untuk membawa karya ke mana. Misalnya, selama keliling di Australia format pamerannya sama terus. Tapi saat dipindahkan ke Jepang, ada karya yang baru. Aku ingat dengan Suwage. Karena ruangnya tidak cukup tinggi untuk tendanya, Suwage harus tukar dengan karya yang lain. Kadang-kadang, secara praktis juga ada pertimbangan seperti itu. Bukan hanya berhubungan dengan seniman dan karya, tapi juga berhubungan dengan kurator. Di Amsterdam, misalnya, campur tangan berhubungan dengan ruang. Ruangnya hanya satu dan menurut kuratornya tidak semua karya bisa cocok dicampuraduk. Jadi, ada perubahan juga karena itu.

Saat ini, sepenting apa untuk seniman Indonesia berpameran di luar negeri?  Atau justru lebih penting membuat pameran internasional di Indonesia?

Saya pikir membangun network dan pertukaran itu sangat penting. Itu akan memperkuat dan menciptakan diskusi yang dinamis. Dulu, karena persoalan funding, kita harus menunggu untuk diundang. Sekarang kita bisa ambil peran yang lebih aktif untuk pertukaran seperti itu. Kita bisa membuat acara internasional di sini. Ini juga berhubungan dengan bagaimana kita bisa membaca kembali perkembangan global dan bagaimana memposisikan diri kita.

Apakah setelah AWAS, ada cara pandang baru dari masyarakat internasional terhadap seni rupa Indonesia?

Paling tidak, AWAS membuka peluang agar perkembangan seni rupa kontemporer Indonesia dimengerti. Sebab kadang orang-orang di luar, khususnya di Belanda, masih berpikir, “masa sih ada kontemporer di Indonesia?”

Tinggalkan komentar